Hari ini saya kebagian tugas mengawasi para siswa ujian menulis, tepatnya sih mengarang. merem melek mereka mencoba mencari ide, mencari kata – demi kata yang dapat mereka tuangkan dalam bentuk tulisan. tentu saja bukan sekedar kata. sebab kata yang mereka tulis haruslah bermakna, atau paling tidak ketika bergabung menjadi sebuah kalimat lalu sebuah paragraf akan menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
Menulis memang bukan satu pekerjaan yang mudah, itu adalah satu hal yang sangat saya pahami. saya dapat saja mencoret – coret hasil tulisan mereka, dengan alasan kurang bagus, tidak layak, atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, padahal saya sendiri juga bukanlah seorang penulis yang baik. tapi Insya Allah saya dapat menjadi seorang pembaca yang baik. saya dapat membaca sebuah buku atau artikel berulang – ulang karena saya menyukai gaya bahasanya. saya sering mendiskusikan isi sebuah novel karena alur ceritanya yang tergambarkan dengan apik, tapi saya dapat juga melemparkan buku itu bahkan ketika saya baru membaca prolognya saja. padahal, sumpah, kalau saya disuruh menulis sebuah buku, saya pasti tidak akan mampu menulis lebih dari satu halaman, itupun didalamnya hanya akan berisi kata – kata sambung. yang, dan, atau, kemudian daripada itu, selanjutnya, lalu, sama dengan yang kulihat sebagian para siswa itu tulis dalam pekerjaan mereka. tapi ujian tetaplah ujian, dan mereka harus melakukannya, bisa atau tidak bisa, suka atau tidak suka.
Menulis memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, apalagi ketika temanya harus ditentukan oleh orang lain. padahal kita tidak mempunyai referensi apapun tentang tema yang disyaratkan. tapi sekali lagi, ujian tetaplah ujian.
Lalu saya melihat wajah – wajah putus asa. satu persatu mengumpulkan pekerjaan mereka. ada yang tersenyum kecut, ada yang ternyum malu – malu, ada yang penuh harap. mudah – mudahan Bapak guru yang mengoreksi tulisan saya berbaik hati memberikan nilai yang bagus.
Sebelum pekerjaan mereka saya serahkan ke bapak guru yang berkompeten untuk mengoreksinya, saya sempatkan untuk mengintip beberapa diantaranya. sebagian dari mereka ternyata memilih tema yang sama, gaya bahasa yang sama, isinyapun hampir sama. Lalu ketika saya tanyakan, kenapa hanya memilih satu diantara tema itu? jawaban merekapun hampir sama, “Kawanku paling banyak memilih tema itu, paling tidak kami bisa saling bertukar ide dan saran”
Sejenak terdiam mendengan kepolosan jawaban mereka. Mereka ternyata lebih menyukai keseragaman daripada “Berbeda”.
Lalu sebersit tanya muncul, mengapa…?…..
(Mudah – mudahan besok saya dapat menemukan jawabannya. atau adakah yang akan membantu saya mencari jawabannya)..?
Kembali ketulis menulis,
Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul “Mengarang itu gampang”, juga pernah mengikuti sebuah seminar tentang bagaimana mengikat makna dalam bentuk tulisan, teorinya kedengaran mudah, tapi ujung – ujungnya tetap mentok juga. Akhirnya tetap saja hanya jadi selembar kertas kertas yang berisi berbagai kata sambung………….
Hasil refleksi yang bagus untuk dibaca. Ternyata bukan hanya siswa saja yang sulit untuk menulis, gurupun ternyata juga kesulitan. Maju terus dan MENULISLAH SEBELUM MENULIS ITU DILARANG. Terimakasih dan salam eksperimen.
Comment by Paijo — February 22, 2007 @ 5:02 am
Wow … Menulis Sangat Mudah, Mata Khatulistiwa, Jogja, 2007, cetakan ke dua.
Comment by Ersis Warmansyah Abbas — August 22, 2007 @ 2:48 pm